Ketemu Oknum Satpam Teruk di Museum Botero

Ceritanya gue lagi di Bogota, lagi dapet beasiswa belajar bahasa Spanyol di Universitas Externado Kolombia selama 4 bulan.

Sebagai orang yang doyan banget jalan-jalan, ke Kolombia nggak afdol kalo nggak ngider ke sana-kemari. Tapi karena gue lagi bawa gembolan di perut (a.k.a bayi), jadi mau nggak mau, aktivitas jalan-jalan pun harus disesuaikan dengan kondisi fisik dan si bayi.

Untungnya, kampus tempat gue belajar terletak di kawasan yang super kece banget, namanya La Candelaria. Di Kawasan La Candelaria ini banyak banget gedung sama rumah tua bekas jajahan Spanyol yang sekarang jadi museum atau tetep dilestarikan. Banyak spot wisata juga di kawasan sini kayak Plaza Bolivar, gereja-gereja kuno, dan masih banyak lagi yang belum gue explore.

Salah satu yang gue incer dari awal dateng ke Kolombia Agustus lalu adalah dateng ke Museum Botero. Dalam bahasa sini disebutnya Museo Botero. Soalnya waktu di Indo pernah liat replika lukisan si pelukis namanya Botero di Kedubes Kolombia di Jakarta. Botero itu khasnya selalu bikin lukisan atau patung dengan objek yang gendut-gendut. Jadinya karyanya lucu-lucu banget. Baca lebih lanjut

Iklan

Semacam Janji Gadis

“If there were no words, no way to speak, i would still hear you. If there were no tears, no way to feel inside, i’d still feel for you,”

“And even if the sun refused to shine, even if romance ran out of rhyme, you wuld still have my heart until the end of time. You’re all i need, my love, my Valentine,”

Lagu “Valentine” milik Martina Mcbride itu mengalun di telinga Gadis sore ini. Menemaninya bekerja.

Lagu yang disukai Gadis sejak SMA dulu itu saat ini kembali memiliki makna yang dalam.

Mungkin Gadis sedang berlebihan. She doesn’t care at all. Tapi rasanya saat ini ingin sekali mengatakan hal itu pada seorang pria yang kelak akan menjadi suami Gadis,  entah siapa.

Lagu itu seperti janji Gadis pada hatinya sendiri yang pernah terluka beberapa waktu lalu.

Gadis tidak akan pernah lupa bagaimana rasanya kehilangan dan rasanya dilukai
amat dalam di dalam hati. Tentang perih, sakit, sedih, benci, dan rasa sesak yang pernah menggumpal di dadanya.

Di saat itu, Gadis memilih untuk tidak menjadi orang jahat. Gadis memilih untuk memaafkan dan menerima dengan segala sakit yang ada, dengan segala bisikan-bisikan tak menyenangkan, dengan segala kenyataan yang pahit.

Di saat yang bersamaan, Gadis berucap janji di dalam hati. Ia lelah bermain dengan perasaan. Gadis hanya mendambakan, suatu saat ada seorang pria yang bisa membawa kembali senyumnya yang sempah hilang dan mengajaknya ke masa depan sambil menggandeng tangan Gadis, tak dilepaskannya. Di saat itu, Gadis tahu, pria masa depannya itu bisa membuatnya nyaman untuk terus bersama.

Walaupun Gadis belum tahu dan belum memilih siapa pria masa depannya itu, tapi Gadis berjanji di dalam hati. Pada hari di mana ia memilih nanti, pada hari di mana ia meng-iya-kan ajakan pria itu, di hari itu juga Gadis hanya akan memberikan hatinya pada pria tersebut. Gadis akan menjaga pria itu sepenuh hati. Karena Gadis tahu rasanya
kehilangan dan ia sungguh tidak ingin kembali merasakannya.

Seperti lagu “Valentine” itu, seandainya punya suara merdu, Gadis ingin sekali berbisik lembut di telinga pria masa depannya itu, sekalipun dunia sedang tidak bersahabat, Gadis akan tetap bertahan di sisimu. Walaupun suatu saat kita bertambah tua, rambutmu memutih, kulitmu mengkerut, pandanganmu semakin kabur, ingatanmu semakin memudar, Gadis akan tetap ada di sisimu.

Di saat itu, Gadis akan tetap berbagi cerita tentang anak kucing yang lucu, tentang masa lalu yang menggelikan untuk dikenang, tentang lagu yang disuka, tentang rasa donat yang baru dibeli di toko sebelah, tentang cerita pendek yang baru dikarang Gadis, tentang matahari yang selalu datang di pagi hari, tentang bulan yang selalu datang di malam hari. 

“All of my life, i have been waiting for all you give to me. You’ve opened my eyes, and shown me how to love unselfishly”

Lagu itu masih mengalun di telinga Gadis.

Gadis hanya punya satu hati. Hati yang terus dijaganya agar tidak kembali terluka itu akan diberikannnya, sepenuhnya, pada pria masa depannya itu.

Seperti lagu itu, semua yang telah dijalani dan semua yang pernah Gadis alami, membuat Gadis paham, betapa “cinta” itu haruslah tidak egois.

Gadis akan melepaskan apa yang harusnya dilepaskan, dan mempertahankan apa yang layak dipertahankan. Betapa pun sedihnya, Gadis akan melakukan itu. Karena memang cinta itu tidak boleh egois kan.

Gadis harus mengalah, pada cinta yang sudah memilih dan bersiap menyambut cinta yang akan datang.

Orang-orang itu mungkin hanya bisa memandang sedih melihat Gadis. Mungkin mereka mengira Gadis tengah mengalami kemalangan. Tapi tak jarang juga yang mungkin senang melihat Gadis di posisi saat ini. Ucapan-ucapan mereka di belakang telinga Gadis membuat Gadis muak. Gadis sama sekali tidak peduli dengan apa yang mereka bilang. Mereka hanya bisa berkomentar. Mengomentari hal yang mereka juga bahkan tidak pernah alami. Mengomentari apa yang menjadi asumsi mereka.

Haruskah Gadis meluruskan semua komentar miring itu? Rasanya tidak. Gadis tahu, betapapun ia menjelaskan tentang kehidupannya, tak satupun yang akan benar-benar mengerti. Jadi untuk apa cerita?

Gadis hanya tahu, satu-satunya yang bisa mengerti soal masalah dirinya, cuma dia seorang dan tulisan-tulisannya. Karena itu Gadis memilih menutup telinga dari apa yang mereka bicarakan. 

Di kepala Gadis saat ini seolah banyak hal yang tengah berputar, soal tanggal 12 April, soal November, soal Januari 2016, soal hatinya, soal pria masa depannya, soal nyonya “N”, soal mama, soal “rumah” yang ada dibayangannya, semuanya berputar.

Kepala Gadis menjadi seolah penuh.

“I’ve dreamed of this a thousand times before. In my dreams i couldn’t love you more”

Gadis pada akhirnya memilih untuk diam. Menenangkan hatinya untuk bisa lebih jernih memandang masalah.

Gadis saat ini sama sekali belum tahu, siapa pria masa depan yang akan bersamanya di “hari itu”. Gadis hanya bisa berdoa, meminta yang terbaik untuk jalannya.

Gadis belum tahu siapa pria yang akan duduk di sapingnya di “hari itu”. Yang Gadis tahu dan Gadis yakini, pria itu adalah pria terbaik yang dipilihkan Tuhan untuk menemani Gadis di sisa hidupnya.

Gadis menanti “hari itu”. Hari di mana ia memberikan sepenuh hatinya untuk pria masa depannya. Membangun rumah bersama, melakukan perjalanan bersama, menangis bersama, dan tetap bergandengan, tak peduli bagaimanapun kondisinya nanti.

Mungkin sekarang masih sedih. Mungkin sekarang jalannya masih berliku. Tapi Gadis yakin, cinta yang diperjuangkan akan bahagia pada akhirnya. Tuhan punya cara sendiri untuk membuat kita Bahagia.

“I will give you my heart until the end of time. You’re all i need, my
love, my Valentine”

Lagu itu menjadi semacam janji bagi Gadis. Janji Gadis pada pria masa depannya.

*****

Sing: Big Big World

Gadis suka lagu ini sejak kelas 2 SMP. Saat itu, she’s fallin in love for the 1st time. Dia jatuh cinta monyet2an dengan kakak kelasnya, pemain basket, tinggi atletis & tampan. Ja’far Rafsanjani namanya.

Dulu Gadis suka denger lagu ini pake walkman Sony miliknya di kantin yang menghadap lapangan basket sambil liat dia latihan.

Sampai saat ini masih lekat banget di memori Gadis gimana rasanya cewek cupu yang satu ini jatuh cinta ke Ja’far saat itu.

Sekarang, Gadis kembali suka banget dengerin lagu ini. Liriknya dalem, versi asli lagunya juga enak didenger.

Bagi Gadis, lagu ini sekarang semacam pelipur lara, mungkin? Cara memgobati luka hati dari dalam.

Jadi inget bbm seorang temen Gadis siang tadi. She said: Breaking up is the hardest, but falling in love again is the best feeling ever.

Yeah, Gadis mengamini ucapannya itu.

Lagunya enak, Buat Gadis sih, seolah berkisah  tentang seorang perempuan yang ditinggal pergi kekasih yang amat dicintainya.

Perempuan itu sendiri sebenarnya yakin bahwa dirinya akan baik-baik saja meski ditinggal pergi. Namun ia tidak menampik, ada masa-masa di mana ia merasa begitu kesepian dan kehilangan kekasihnya itu.

Namun demikian, hal-hal itulah yang membuatnya menjadi “Big big girl in the big big world”.

But well, terlepas dari apapun itu, asli lagu ini enak banget didenger. Apalagi versi aslinya.

Emilia – Big Big World

🎧I’m a big big girl
In a big big world
It’s not a big big thing if you leave me
But I do do feel
That I do do will
Miss you much
Miss you much

I can see the first leafs falling
It’s all yellow and nice
It’s so very cold outside
Like the way I’m feeling inside

Outside it’s no raining
And tears are falling from my eyes
Why did it have to happen
Why did it all have to end

I have your arms around me
Warm like fire
But when I open my eyes
Your gone🎧

Jakarta, Selasa 17 Maret 2015

Gadis Ikrolilah

Fragmen: Menungu “dia”

image

Neti, sahabat Gadis kemarin sore bilang, ” Apapun yang kamu pilih, pastikan kamu siap untuk total dengan pilihan kamu. Ambil resikonya, nikmati rewardnya someday”.

Yang pasti, kata Neti, jangan memilih dengan gegabah & jangan menyakiti orang lagi.

Mulanya mungkin akan merasa insecure. Tapi kalau bisa konsisten dan bertahan, rewardnya juga pasti setimpal.

Semua udah ada jalurnya sendiri 😁😁

Pada akhirnya Gadis memilih untuk menunggu “dia”. “Dia” yang Gadis sendiri belum tahu siapa, kapan akan ketemu, dan gimana cara ketemunya.

Nggak menutup kemungkinan “dia” itu someone dari masa lalu, tapi bukan nggak mungkin “dia” itu someone yang bener-bener baru. Gadis sendiri beneran nggak tau.

Yang Gadis tau, one fine day, Gadis akan bertemu dengan “dia” dengan cara terbaik.

Sambil nunggu “dia” dateng, kenapa enggak jalani hobi aja, jalan, nonton, nulis, moto. Sampe ketemu “dia” & bisa share hobi.

Sambil nunggu “dia” dateng, kenapa enggak persiapkan diri jadi perempuan terbaik. Perbaikin diri, fisik, akhlak, karir, & attitude. Supaya ketika si “dia” dateng, Gadis bisa memberikan semua yang terbaik buat “dia” seorang sampai ajal memisahkan.

Ngomongnya gampang, nulisnya juga gampang. Yang susah jalaninnya. But Gadis not become an Aries for nothing. Aries suka menantang diri & memastikan dirinya bisa lebih baik lagi. Begitu juga dengan Gadis.

Mungkit pahit & sakit yang kemarin emang harus terjadi. Itu jadi semacam “harga” yang harus dibayar untuk pembelajaran hidup yang bisa membuat Gadis lebih bijak dalam berpikir dan bersikap.

Yep! Gadis, si-yang-akan-menjadi-24 berterimakasih kepada pahit & sakit yang kemarin. Terlepas dari apapun itu.

image

Jakarta, Senin 16 Maret 2015

Gadis Ikrolilah

Fragmen: Lift Graha Pena Jakarta

image

Gadis baru keluar dari lift di kantornya, Graha Pena Lantai 9, Jakarta. Wajahnya tampak sumringah menahan senyum sendirian.

Gadis merasa tergelitik senyum sedari tadi, saat menunggu lift di lantai basement parkiran.

Bagi Gadis, cinta tak ubahnya lift di kantornya ini, Graha pena.

Ada dua lift berjejer, kanan dan kiri. Di tengahnya ada satu tombol bersama untuk naik atau turun.

Baca lebih lanjut

Fragmen: Lanang

488087_437018756343469_296573629_nDi sore kemarin, Gadis terisak dalam. Hatinya hancur, sang Bunda pun mengkhawatirkan.

Tapi tak lama, seseorang tiba-tiba seseorang datang. Menampung air mata Gadis. Memapahnya untuk kembali berdiri. Gadis menoleh, tampak tak asing bagi Gadis. Sosok laki-laki itu, Lanang. Laki-laki yang sempat disakiti Gadis dengan pengkhianatan.

Baca lebih lanjut