Arsip Kategori: Cerpen

Fragmen: Lift Graha Pena Jakarta

image

Gadis baru keluar dari lift di kantornya, Graha Pena Lantai 9, Jakarta. Wajahnya tampak sumringah menahan senyum sendirian.

Gadis merasa tergelitik senyum sedari tadi, saat menunggu lift di lantai basement parkiran.

Bagi Gadis, cinta tak ubahnya lift di kantornya ini, Graha pena.

Ada dua lift berjejer, kanan dan kiri. Di tengahnya ada satu tombol bersama untuk naik atau turun.

Baca lebih lanjut

Iklan

Fragmen: Lanang

488087_437018756343469_296573629_nDi sore kemarin, Gadis terisak dalam. Hatinya hancur, sang Bunda pun mengkhawatirkan.

Tapi tak lama, seseorang tiba-tiba seseorang datang. Menampung air mata Gadis. Memapahnya untuk kembali berdiri. Gadis menoleh, tampak tak asing bagi Gadis. Sosok laki-laki itu, Lanang. Laki-laki yang sempat disakiti Gadis dengan pengkhianatan.

Baca lebih lanjut

Fragmen: Harmoni

… KauAmel Love membuatku mengerti hidup ini. Kita terlahir bagai selembar kertas putih. Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai dan terwujud harmoni… Padi-Harmoni

LAGU itu terus diputar oleh Gadis dari playlist di Samsung Mega miliknya. Sudah hampir satu jam lagu itu terus berkali-kali diputar dan melantun merdu di telinga Gadis.

Sambil meneguk segelas Iced Hazelnute Chocolate di J.CO Gandaria City Jakarta sore itu, Gadis mencoba kembali menemukan rasa dan makna dari lagu yang pernah punya kenangan mendalam di hidupnya itu.

Pikiran Gadis melayang ke masa hampir dua tahun yang lalu. Tahun 2013 tepatnya, di mana ia dan Lanang mendengarkan lantunan suara Fadli Padi di lagu Harmoni itu bersama-sama di sebuah kafe di bilangan Kemang Jakarta Selatan.

Baca lebih lanjut

Trust!

“Trust is like a chocolate. Once it melts, you can’t easily bring it back to shape,” -unknown

SABTU MALAM

“KENAPA sih sayang? Aku salah apa?” Lanang bertanya dengan nada tinggi sambil memarkirkan mobilnya di pinggir jalan tol Jagorawi ini.

Lintang yang duduk di sampingnya masih diam seribu bahasa. Gadis 24 tahun itu masih mempertahankan wajah ngambeknya.

“Ayo dong sayang, jangan biarin pertanyaanku menggantung tanpa jawaban gini,” rayu Lanang setelah mobil benar-benar bersandar di bahu jalan.
Baca lebih lanjut

Spasi

“TAPI salahku apa?” tanya Lintang pada Lanang yang masih berupaya bertahan duduk di hadapannya.

“Ini buka salah apa atau siapa yang melakukan kesalahan. Aku hanya ingin kita rehat sejenak, itu saja,” jawab Lanang berupaya tenang hadapi gadisnya yang tengah emosional.

Lintang yang diliputi emosi itu masih belum bisa mencerna maksud di balik sikap Lanang yang tiba-tiba saja berubah beberapa hari terakhir.

“Kamu sudah tidak mencintaiku kah? Bahkan di saat hubungan kita baru saja melangkah,” emosi Lintang yang meluap akhirnya mencair lewat butiran air mata di pipinya.
Baca lebih lanjut

Ketinggian Tidak Mengancammu

Gambar

‘KENAPA tubuhmu begitu menggigil? Padahal aku tak bertiup begitu kencang malam ini,” kata si Angin membuyarkan lamunanku.

“Aku menggigil karena takut, bukan kedinginan,” jawabku jujur.

“Pada apa? Tidak ada yang sedang menakutimu,” Angin begitu bijak bertanya.

“Keinggian itu menakutiku. Aku takut terjatuh jika mencoba melintasinya,” jantungku bahkan berdegup kencang hanya dengan melongok ke bawah dari atas pohon ini.

Baca lebih lanjut

Kinai

“KINAI, bangun nak..” suara lembut itu tiba-tiba masuk ke telingaku. Menggema di dalamnya. Lembut sekali, sampai-sampai aku merasa tenang dan hangat mendengarnya.

Badanku terasa kaku, tak seujung jaripun dapat ku gerakkan. Tak sedikit celahpun dapat aku buat untuk mengeluarkan suara dari bibirku. Bahkan lidahku tak ingin ia bergerak sekalipun hanya sedikit. Ragaku seolah membatu.

Aku usahakan untuk bisa membuka mataku. Sedikit saja, agar aku bisa melihat pemilik suara lembut itu. Aku sungguh merindukannya.

“Kinai… Kamu baik-baik aja kok. Ibu akan selalu di sini sampai kamu sembuh ya nak. Kinai anak Ibu yang kuat,” suara itu kembali menggema. Oh Tuhan, aku semakin ingin membuka mataku. Tolonglah, biarkan aku membuka mataku sedikit saja.
Baca lebih lanjut

Poster Caleg

Gambar

WUUUSH! Angin dini hari menerbangkan debu-debu di jalan Cilibende Bogor tatkala sebuah sepeda motor melaju kencang. Debu-debu itu kemudian menempel di poster-poster caleg DPRD kota Bogor yang terpasang tepat di sebelah kampus Diploma IPB. Terhitung ada empat poster di situ.

Detik yang merambat mengisyaratkan bahwa waktu telah melampaui pukul satu dini hari. Dinginya kota Bogor menjadi saksi dari empat poster caleg yang menghujat satu sama lain. Dimulai oleh caleg partai Ayam.
Baca lebih lanjut

Goresan Tubuh Tanpa Organ: TOK*T

illustration,melrose,girl,cherry,tattoo-ffc7c4ee789fd08c147096b415f5d47f_h

TOK*T

Kami memeras-meras diri begitu buas agar cairan diri kami tumpah menjadi jutaan majalah pelepas dahaga para buaya dan hidung kuda zebra, tua atau muda. Tak usah berpikir kalau kami sedih, justru kami makin bergairah buat gondal-gandol menonjolkan diri. Rumah sakit dan jurusan bedah plastik di sekujur tubuh ibu pertiwi bersedia menyuntikkan karet silikon bagi kami. Kalau kami tak punya cukup duit, kami bisa saja jumpalitan cari tukang suntik silikon abal-abal di pinggir jalan, sukur-sukur kalau ada yang gratisan.

Ketakutan kami kepada kangker sejak lama telah kami mutilasi hidup-hidup. Dan ketahuliah, niat kami memontok-gendutkan senggayut daging ini, didukung juga oleh banyak kosmetik sejenis gerakan anti-RUU-APP. Kosmetik sejenis ini jelas bakal memuluskan nasib kami agar tetap busung diperas begitu keras oleh tangan-tangan pasar yang bebas berkeliaran mengacak-acak denyut hidup kami sampai puas.
Baca lebih lanjut

Pukul Enam Pagi

TEPAT pukul enam pagi, aku bangkit dari lelapku untuk menikmati pagi yang eksotis. Pada celah jendela disudut ruang hampa ini, kulihat semburat jingga melukiskan dirinya sendiri di pojok-pojok langit, memberi tanda bahwa penguasa siang sudah terbangun dan sedang beranjak menuju singgasananya, bersiap menyebar energi positif pada apa-apa yang bernaung dibawahnya. Sedang sudut lainnya lainnya, goresan awan putih pada kanvas biru langit mempertegas keberadaanya, bahwa ia juga memiliki hak hidup bersama di atap bumi ini, berdampingan dengan damai.

Aku mencintai pukul enam pagi. Pukul enam pagi adalah saat dimana bulan sudah meredup karena kuasanya telah diberikan pada sang mentari. Mereka memberi dan menerima kekuasaan tersebut dengan tulus. Tidak ada perebutan tahta disana, yang ada adalah pembagian tugas yang teratur.

Segera aku buka jendela di kamar ini, seketika Angin segera menyapaku tanpa meminta jeda. Aku menyayangi Angin, ia selalu hadir tepat waktu untuk menghantarkan udara-udara surga yang diutus malaikat di pintu subuh untuk masuk lebih dalam relung-relung jiwa manusia.
Baca lebih lanjut