Arsip Bulanan: April 2015

Semacam Janji Gadis

“If there were no words, no way to speak, i would still hear you. If there were no tears, no way to feel inside, i’d still feel for you,”

“And even if the sun refused to shine, even if romance ran out of rhyme, you wuld still have my heart until the end of time. You’re all i need, my love, my Valentine,”

Lagu “Valentine” milik Martina Mcbride itu mengalun di telinga Gadis sore ini. Menemaninya bekerja.

Lagu yang disukai Gadis sejak SMA dulu itu saat ini kembali memiliki makna yang dalam.

Mungkin Gadis sedang berlebihan. She doesn’t care at all. Tapi rasanya saat ini ingin sekali mengatakan hal itu pada seorang pria yang kelak akan menjadi suami Gadis,  entah siapa.

Lagu itu seperti janji Gadis pada hatinya sendiri yang pernah terluka beberapa waktu lalu.

Gadis tidak akan pernah lupa bagaimana rasanya kehilangan dan rasanya dilukai
amat dalam di dalam hati. Tentang perih, sakit, sedih, benci, dan rasa sesak yang pernah menggumpal di dadanya.

Di saat itu, Gadis memilih untuk tidak menjadi orang jahat. Gadis memilih untuk memaafkan dan menerima dengan segala sakit yang ada, dengan segala bisikan-bisikan tak menyenangkan, dengan segala kenyataan yang pahit.

Di saat yang bersamaan, Gadis berucap janji di dalam hati. Ia lelah bermain dengan perasaan. Gadis hanya mendambakan, suatu saat ada seorang pria yang bisa membawa kembali senyumnya yang sempah hilang dan mengajaknya ke masa depan sambil menggandeng tangan Gadis, tak dilepaskannya. Di saat itu, Gadis tahu, pria masa depannya itu bisa membuatnya nyaman untuk terus bersama.

Walaupun Gadis belum tahu dan belum memilih siapa pria masa depannya itu, tapi Gadis berjanji di dalam hati. Pada hari di mana ia memilih nanti, pada hari di mana ia meng-iya-kan ajakan pria itu, di hari itu juga Gadis hanya akan memberikan hatinya pada pria tersebut. Gadis akan menjaga pria itu sepenuh hati. Karena Gadis tahu rasanya
kehilangan dan ia sungguh tidak ingin kembali merasakannya.

Seperti lagu “Valentine” itu, seandainya punya suara merdu, Gadis ingin sekali berbisik lembut di telinga pria masa depannya itu, sekalipun dunia sedang tidak bersahabat, Gadis akan tetap bertahan di sisimu. Walaupun suatu saat kita bertambah tua, rambutmu memutih, kulitmu mengkerut, pandanganmu semakin kabur, ingatanmu semakin memudar, Gadis akan tetap ada di sisimu.

Di saat itu, Gadis akan tetap berbagi cerita tentang anak kucing yang lucu, tentang masa lalu yang menggelikan untuk dikenang, tentang lagu yang disuka, tentang rasa donat yang baru dibeli di toko sebelah, tentang cerita pendek yang baru dikarang Gadis, tentang matahari yang selalu datang di pagi hari, tentang bulan yang selalu datang di malam hari. 

“All of my life, i have been waiting for all you give to me. You’ve opened my eyes, and shown me how to love unselfishly”

Lagu itu masih mengalun di telinga Gadis.

Gadis hanya punya satu hati. Hati yang terus dijaganya agar tidak kembali terluka itu akan diberikannnya, sepenuhnya, pada pria masa depannya itu.

Seperti lagu itu, semua yang telah dijalani dan semua yang pernah Gadis alami, membuat Gadis paham, betapa “cinta” itu haruslah tidak egois.

Gadis akan melepaskan apa yang harusnya dilepaskan, dan mempertahankan apa yang layak dipertahankan. Betapa pun sedihnya, Gadis akan melakukan itu. Karena memang cinta itu tidak boleh egois kan.

Gadis harus mengalah, pada cinta yang sudah memilih dan bersiap menyambut cinta yang akan datang.

Orang-orang itu mungkin hanya bisa memandang sedih melihat Gadis. Mungkin mereka mengira Gadis tengah mengalami kemalangan. Tapi tak jarang juga yang mungkin senang melihat Gadis di posisi saat ini. Ucapan-ucapan mereka di belakang telinga Gadis membuat Gadis muak. Gadis sama sekali tidak peduli dengan apa yang mereka bilang. Mereka hanya bisa berkomentar. Mengomentari hal yang mereka juga bahkan tidak pernah alami. Mengomentari apa yang menjadi asumsi mereka.

Haruskah Gadis meluruskan semua komentar miring itu? Rasanya tidak. Gadis tahu, betapapun ia menjelaskan tentang kehidupannya, tak satupun yang akan benar-benar mengerti. Jadi untuk apa cerita?

Gadis hanya tahu, satu-satunya yang bisa mengerti soal masalah dirinya, cuma dia seorang dan tulisan-tulisannya. Karena itu Gadis memilih menutup telinga dari apa yang mereka bicarakan. 

Di kepala Gadis saat ini seolah banyak hal yang tengah berputar, soal tanggal 12 April, soal November, soal Januari 2016, soal hatinya, soal pria masa depannya, soal nyonya “N”, soal mama, soal “rumah” yang ada dibayangannya, semuanya berputar.

Kepala Gadis menjadi seolah penuh.

“I’ve dreamed of this a thousand times before. In my dreams i couldn’t love you more”

Gadis pada akhirnya memilih untuk diam. Menenangkan hatinya untuk bisa lebih jernih memandang masalah.

Gadis saat ini sama sekali belum tahu, siapa pria masa depan yang akan bersamanya di “hari itu”. Gadis hanya bisa berdoa, meminta yang terbaik untuk jalannya.

Gadis belum tahu siapa pria yang akan duduk di sapingnya di “hari itu”. Yang Gadis tahu dan Gadis yakini, pria itu adalah pria terbaik yang dipilihkan Tuhan untuk menemani Gadis di sisa hidupnya.

Gadis menanti “hari itu”. Hari di mana ia memberikan sepenuh hatinya untuk pria masa depannya. Membangun rumah bersama, melakukan perjalanan bersama, menangis bersama, dan tetap bergandengan, tak peduli bagaimanapun kondisinya nanti.

Mungkin sekarang masih sedih. Mungkin sekarang jalannya masih berliku. Tapi Gadis yakin, cinta yang diperjuangkan akan bahagia pada akhirnya. Tuhan punya cara sendiri untuk membuat kita Bahagia.

“I will give you my heart until the end of time. You’re all i need, my
love, my Valentine”

Lagu itu menjadi semacam janji bagi Gadis. Janji Gadis pada pria masa depannya.

*****

Iklan