Arsip Bulanan: September 2013

Ketinggian Tidak Mengancammu

Gambar

‘KENAPA tubuhmu begitu menggigil? Padahal aku tak bertiup begitu kencang malam ini,” kata si Angin membuyarkan lamunanku.

“Aku menggigil karena takut, bukan kedinginan,” jawabku jujur.

“Pada apa? Tidak ada yang sedang menakutimu,” Angin begitu bijak bertanya.

“Keinggian itu menakutiku. Aku takut terjatuh jika mencoba melintasinya,” jantungku bahkan berdegup kencang hanya dengan melongok ke bawah dari atas pohon ini.

Baca lebih lanjut

Iklan

Kinai

“KINAI, bangun nak..” suara lembut itu tiba-tiba masuk ke telingaku. Menggema di dalamnya. Lembut sekali, sampai-sampai aku merasa tenang dan hangat mendengarnya.

Badanku terasa kaku, tak seujung jaripun dapat ku gerakkan. Tak sedikit celahpun dapat aku buat untuk mengeluarkan suara dari bibirku. Bahkan lidahku tak ingin ia bergerak sekalipun hanya sedikit. Ragaku seolah membatu.

Aku usahakan untuk bisa membuka mataku. Sedikit saja, agar aku bisa melihat pemilik suara lembut itu. Aku sungguh merindukannya.

“Kinai… Kamu baik-baik aja kok. Ibu akan selalu di sini sampai kamu sembuh ya nak. Kinai anak Ibu yang kuat,” suara itu kembali menggema. Oh Tuhan, aku semakin ingin membuka mataku. Tolonglah, biarkan aku membuka mataku sedikit saja.
Baca lebih lanjut

[Idol Series] Benedict Cumberbatch ‘Holmes’

Image

BENEDICT Cumberbatch adalah nama seorang aktor papan atas yang berasal dari negeri dimana Pangeran Harry berada, Inggris. Pertama kali tahu namanya, saya agak kesulitan mengingatnya, tapi setelah tahu nama panjangnya, ternyata jauh… lebih sulit melafalkan dan mengingatnya: Benedict Timothy Carlton Cumberbatch. Sebelum membahasnya lebih lanjut, saya akan membuat panggilan ‘sayang’ atau istilah untuk Cumberbatch supaya lebih ringkas dan nyaman menyebutnya. Saya sebut dia Mr. Cumb, diambil dari nama belakangnya. Mr. Cumb adalah istilah pribadi yang keluar dari saya, bukan berlaku secara umum.

Saya terlebih dahulu tahu aktingnya, daripada namanya. Saya pernah melihat aktingnya pertama kali di film The Other Boleyn Girl, tapi karena bukan bermain sebagai pemeran utama, saya tidak terlalu memperhatikanya. Saya baru berikan perhatian lebih pada Mr. Cumb beberapa minggu belakangan ini, setelah saya menyaksikan serial Sherlock Holmes dari BBC. Mr. Cumb inilah pemeran utamanya. Dalam film itu, Mr. Cumb memerankan tokoh Holmes dengan sangat apik, menarik, unik, dan berkarakter. Di samping itu, serial itu memang memiliki ide cerita yang menarik dan sulit ditebak.

Disamping Sherlock Holmes, Mr. Cumb punya sederet lagi judul serial yang pernah ia bintangi, juga puluhan film ternama yang berhasil meroketkan namanya. Tapi jangan berharap saya akan menuliskan semuanya disini. Karena akan lebih menarik jika film-filmnya dibahas dalam pembahasan khusus yang lebih mendalam. Jadi dalam tulisan ini, saya hanya akan curhat sedikit saja tentang siapa itu Mr. Cumb.

Mr. Cumb adalah pria asli Inggris yang lahir pada tanggal 19 Juni, 37 tahun yang lalu. Dia mulai terjun ke dunia seni peran sejak awal tahun 2000an. Tapi dari berbagai sumber yang saya baca, namanya baru mencuat setelah dia memerankan sosok ilmuan terkenal, Stephen Hawking dalam film Hawking tahun 2004 lalu. Saya pribadi sampai tulisan ini dibuat belum pernah nonton filmnya. But I will.

Pertama kali saya memperhatikan Mr. Cumb di serial Sherlock Holmes, saya tertarik dengan aktingnya yang terkesan arogan dan dingin. Terlebih lagi, entah mengapa, secara pribadi saya sangat suka memperhatikan laki-laki berbicara bahasa Inggris dengan logat British yang kental, seperti Mr. Cumb dan Liam Payne yang pernah saya tulis sebelumnya.

Karena aktingnya yang luar biasa menarik perhatian saya dalam serial Sherlock Holmes dan pastinya karena logat Britishnya yang kental membuat saya semakin ingin tahu siapa dia. Setelah saya mencari tahu lebih banyak tentang rekam jejaknya, saya sempat terbelalak. Karena yang muncul adalah deretan judul film, serial tv, radio, maupun teater dimana ia telah terlibat dan berperan di dalamnya, dan juga sederet penghargaan dari berbagai ajang yang pernah ia terima. Dia memang seorang aktor berkualitas dengan sederet prestasi yang membuktikan itu. Saya hanya bisa berdecak kagum.

Saya tidak menemukan banyak cerita pribadinya. Saya lebih banyak menemukan karya-karyanya. Sedikit yang saya tahu, pria bermata biru ini merupakan keturunan keluarga yang bisa dikatakan cukup berada. Orang tuanya adalah Timothy Carlton dan Wanda Ventham aktor Inggris tahun 70an. Kecintaanya pada seni peran sudah tumbuh sejak ia kecil. Sejak usia 13 tahun, Mr. Cumb memoles bakat aktingnya melalui berbagai pementasan drama sekolahnya. Karena kecintaanya terhadap dunia seni peran, Mr. Cumb memperdalam ilmu teater di Universitas Manchester. Bahkan ia melanjutkan pendidikannya hinga pasca sarjana di London Academy of Music and Dramatic Art dalam Akting Klasik untuk Teater Profesional. Bagi saya, itu cukup membuktikan keseriusannya dalam menjalani apa yang ia sukai, seni peran. Dan itu, sangat keren!

Nama Mr. Chumb semakin berkilau di tahun ini, karena tidak kurang dari tiga film yang dibintanginya akan muncul ke hadapan publik. Pertama, film berjudul The Fifth Estate. Film yang didasarkan pada kisah nyata mengenai kebocoran data-data Wikileaks. Mr. Cumb sendiri berperan sebagai pendiri Wikileaks, Julian Assange. Saya pribadi sangat menantikan kehadiran film ini. Film kedua adalah The Hobbit: The Desolation of Smaug. Mr. Cumb akan mengisi suara Smaug the Dragon. Film ketiga adalah August: Osage County.

Disamping itu yang juga paling saya nantikan pastinya adalah kelanjutan Sherlock Holmes the Seris musim ketiga.

Dari berbagai berita di Daily Mail dan the Guardian, Mr. Cumb juga dikabarkan akan terlibat dalam pementasan teater tahun 2014 yang diangkat dari karya fenomenal milik William Shakespeare, yakni Hamlet. tidak tanggung-tanggung, ia dikabarkan akan memerankan sang tokoh utama dalam teater tersebut. Wow! Mr. Cumb sendiri telah mengungkapkan keinginannya untuk memerankan tokoh Hamlet sejak tahun lalu. And now he’s closer with his dream.

O, ya.. Hari ini saya sempat menulis sedikit berita tentang Mr. Cumb di tempat saya bekerja, baca: Setelah Perankan Sherlock Holmes, Cumberbatch Incar Drama Hamlet

Well, saya secara pribadi sangat tertarik dan terinspirasi dengan keseriusan Mr. Cumb mengejar mimpinya. Saya suka kegilaanya dan keseriusannya menjalani apa yang dia sukai. That’s why, for me, he’s so sexy!

[AMELIA FITRIANI]

Hangul: Lebih Dari Sekedar Aksara

Gambar

BAGI kalian pecinta drama Korea, boyband/girlband Korea, maupun segala sesuatu yang berkaitan dengan Korea, pasti familiar dengan kata Hangul. Buat yang belum tahu, saya akan jelaskan disini. Hangul (한글, baca: Hangeul) merupakan alfabet atau aksara yang digunakan secara resmi oleh bangsa Korea sebagai aksara tulis bahasa Korea. Hangul diciptakan oleh tim ahli dibawah Raja Se-jong.

Sebelum membahas Hangul, saya ingin mengulas sedikit tentang sosok seorang Raja Se-jong. Se-jong lahir pada tahun 1397 dan wafat pada tahun 1450. Ia adalah putera ketiga dari Raja Taejong yang memimpin Dinasti Joseon (Korea). Se-jong unggul dalam bidang studi dan ilmu pengetahuan. Sehingga, ketika Ayahnya turun tahta pada tahun 1418, Se-jong dinobatkan sebagai penggantinya untuk memimpin Dinasti Joseon. Ia masih berumur 21 tahun ketika naik tahta menjadi raja keempat dari Dinasti Joseon. Ia berkuasa dari tahun 1418 hingga akhir hayatnya, yakni 1450.

Selama masa pemerintahannya, Raja Se-jong telah berhasil menghasilkan penemuan-penemuan penting bagi sejarah Korea, salah satunya adalah Hangul. Terkait Raja Se-jong, akan dibahas lebih mendalam pada tulisan saya berikutnya ya^^

Kembali lagi ke pembahasan mengenai Hangul. Hagul pertama kali didokumentasikan pada tahun 1446, berarti empat tahun sebelum sang raja wafat, pada naskah yang disebut Hunminjeongeum yang dibuat antara tahun 1443-1444 dan baru disahkan sebagai aksara Korea secara resmi pada tahun 1446. Hunminjeongeum itu sendiri berarti ‘untuk mengajarkan suara yang benar untuk rakyat’. Tahu maksudnya? Jadi Raja Se-jong pada saat itu berupaya memerdekakan masyarakatnya dari pengaruh Cina, yang salah satunya adalah melalui aksara sebagai pengantar bahasa bangsanya. Kenapa aksara? Karena pada saat itu, masyarakat Korea (yang pada saat itu masih berbentuk Dinasti dan belum bernama Korea) secara lisan menggunakan bahasa Korea, tapi secara tulisan mengadopsi aksara Cina yang disebut dengan Hanja. Kebayang ga sih gimana ribetnya? Kita bicara dengan bahasa kita sendiri, tapi ketika ditulis, kita harus menggunakan aksara negara lain. Menurut saya pribadi, itu sulit. Seperti misalnya kita bicara sehari-hari dengan bahasa Indonesia, tapi ketika ditulis, kita harus menuliskan bahasa Indonesia yang kita gunakan dengan ke dalam aksara Cina. Wew..

Nah! Hal itu juga yang dirasakan masyarakat Korea pada saat itu. Korea dan Cina berasal dari suku bangsa yang berbeda, sehingga mother language mereka otomatis berbeda pula. Maksud saya, selain bahasanya, perbedaan juga terdapat pada pelafalannya. Sehingga, aksara Cina tidak sepenuhnya dapat dengan tepat mengungkapkan bahasa Korea.  Akibatnya, pada saat itu masyarakat Korea, khususnya masyarakat menengah ke bawah, kesulitan mempelajari aksara tersebut. Terlebih lagi sulitnya akses terhadap pendidikan, serta rumitnya aksara Cina yang terdiri dari ribuan karakter yang berbeda, membuat masyarakat Korea pada saat itu banyak yang buta huruf dan tidak bisa membaca. FYI, pada saat itu, hanya kaum laki-laki saya yang diberikan kesempatan untuk mempelajari dan memahami aksara Cina tersebut. Hm…

Melihat keadaan tersebut, Raja Se-jong merasa prihatin. Sehingga ia berinisiatif dan memutuskan untuk membentuk aksara yang dapat menampung bahasa mereka agar masyarakatnya dapat membaca dan mengerti bahasa serta aksara mereka sendiri. Dengan demikian, akan lebih mudah bagi masyarakat Korea untuk berkomunikasi satu sama lain dan mengekspresikan diri mereka. Raja Se-jong juga ingin membuat aksara yang tidak rumit dan mudah dipahami, bahkan oleh masyarakat menengah ke bawah.

Disamping itu, Raja Se-jong juga ingin menunjukkan kemandirian Korea sebagai sebuah bangsa yang memiliki identitasnya sendiri, salah satunya adalah dengan kemandirian bahasa dan aksara. Sang Raja kemudian mengumpulkan para ahli dan cendikiawan Korea. Bersama-sama mereka merumuskan aksara yang tepat untuk bahasa mereka sendiri. Walaupun tidak bisa dipungkiri, bahwa pembentukan Hangul turut dipengaruhi oleh aksara Cina.

Saya sempat berpikir, kenapa Korea pada saat itu tidak menggunakan alfabet atau tulisan latin seperti yang kita gunakan saat ini yah? Maksudnya menggunakan huruf A-Z itu. Jadi kan Raja Se-jong maupun raja-raja lainnya tidak perlu repot membuat aksara sendiri, cukup mengikuti metode yang sudah ada dalam menyusun kalimat. Tapi setelah saya coba cari tahu, saya bisa menyimpulkan bahwa tulisan latin juga ternyata tidak dapat sepenuhnya mampu menampung dengan tepat bahasa Korea. Kok bisa? Walaupun saya belum mahir berbahasa Korea, tapi saya sudah pernah belajar sedikit tentang bahasa Korea, jadi saya coba beri contoh ya, begini:

Saya ambil aksara hanggul dari nama salah satu penyanyi Korea yang saya sukai, yaitu Sungmin. Kata ‘Sungmin’, jika ditulis dalam aksara Hangul maka akan berbentuk seperti ini: 성민. Saya coba jabarkan satu persatu yah hurufnya.
ㅅ : s
ㅓ : eo
ㅇ : jika terletak di awal huruf, dia tidak berbunyi dan bermakna apa-apa (biasanya diletakkan diawal huruf vokal yang berdiri sendiri), tapi bila berada di akhir huruf, maka dia berbunyi -ng, seperti bunyi dengung.
ㅁ : m
ㅣ : i
ㄴ : n

Jadi kalau saya boleh urutkan, formulasinya adalah seperti ini:
ㅅ +   ㅓ  +  ㅇ  +   ㅁ  +  ㅣ +  ㄴ =  성민
s   +  eo  +  ng  +   m  +   i   +   n  =  Seongmin

Namun pada masyarakat Korea, kata ‘Seongmin’, tidak dibaca persis seperti tulisan latin tersebut. Jika kita membaca kata itu, maka kita akan melafalkanya ‘Seongmin’ (dengan membaca EO di tengahnya). Tapi masyarakat Korea berbeda dalam pelafalannya. Mereka akan membacanya ‘Sungmin’ (dengan huruf U ditengahnya, namun U yang dilafalkan berbeda dengan huruf U yang biasa kita lafalkan). Sehingga jika 성민 dikonversi ke huruf latin, maka akan ditulis dengan ‘Sungmin’. Nah loh, bingung kan?

Tapi intinya, contoh yang saya paparkan tadi maksudnya bukan untuk mengajarkan Hangul, melainkan untuk melogikakan bahwa huruf latin tidak sepenuhnya mampu menampung bahasa dan pelafalan masyarakat Korea. Sehingga, Raja Se-jong berupaya menciptakan Hangul, aksara Korea yang dapat menampung baik bahasa dan pelafalannya sendiri.

Hangul kemudian berhasil dibentuk dan dideklarasikan pada tahun 1446. Hangul terdiri dari 24 huruf yang terdiri dari 14 huruf mati (konsonan) dan 10 huruf hidup (vokal). Nama Hangul sendiri diadopsi dari Hunminjeongeum yang sudah saya bahas sebelumnya. Nama Hangul memiliki makna ‘afabet yang agung’.

Ketika dideklarasikan, Hangul mendapatkan penentangan dari ali konfusian dan ahli sastra pada saat itu. mereka percaya bahwa hanya Hanja yang dapat diterima sebagai sistem aksara tulis Korea. pertentangan terhadap Hangul terus berlanjut bahkan setelah Raja Se-jong wafat. Tidak sedikit dari para penerusnya yang berusaha menghapus sistem penulisan Hangul.

Seperti misalnya yang dilakukan oleh Raja Yeonsangun yang merupakan raja kesepuluh dari Dinasi Joseon. Ia melarang penggunaan Hangul dalam berbagai dokumen dan melarang orang-orang yang belajar Hangul. Pertentangan juga dilakukan oleh raja lainnya, yakni Raja Jungjong yang menghapus kementerian Eonmun pada tahun 1506. Kementerian Eonmun merupakan institusi pemerintah yang menangani pada penelitian tentang Hangul.

Hangul kembali bangkit pada abad ke-16 dan ke-17. Hal tersebut dilihat dari banyaknya penggunaan Hangul dalam berbagai literatur maupun dokumen. Kemudian pada abad ke-19, Ketika masa awal penjajahan Jepang di Korea, Hangul kembali diberlakukan dan didorong agar semakin banyak masyarakat Korea yang dapat membaca Hangul. Hal tersebut dilakukan Jepang untuk memutuskan pengaruh Cina di Korea.

Sejak tahun 1894, baik dokumen resmi, buku, surat kabar, dan bahan tertulis lainnya menggunakan aksara Hangul. Namun sebagian ahli sastra yang menolak Hangul masih menggunakan Hanja dalam penulisan.

Kemudian pada tahun 1910, ketika Jepang secara resmi menduduki Korea, Jepang membuat peraturan dan memerintahankan anak-anak Korea untuk datang ke sekolah umum dan belajar Hangul.

Tapi kebijakan pemerintah kolonial Jepang tersebut berubah drastis pada tahun 1938. Jepang mengubah kebijakannya dan melarang penggunaan bahasa Korea maupun aksara Hangul. Berbagai dokumen juga dilarang menggunakan aksara Hangul. Hal tersebut dilakukan karena Jepang ingin mengasimiliasi kebudayaan Korea.

Baru ketika pecah Perang Dunia II yang menyisakan kekalahan Jepang terhadap sekutu, Hangul baru bisa seutuhnya digunakan diseluruh Korea.

Bahkan pasca Perang Dunia II, ketika Korea terbagi menjadi dua negara yang berbeda, yakni Korea Selatan dan Korea Utara, Hangul tetap digunakan sebagai aksara resmi kedua Korea dan masih diberlakukan hingga saat ini.

Sebagai bentuk rasa syukur, Hangul dirayakan setiap tahunnya dan dikenal dengan Hangul Day. Di Korea Selatan, Hangul Day diperingati setiap tanggal 9 Oktober. Sementara itu Korea Utara merayakan Hangul Day setiap tanggal 15 Januari.

Hm.. Saya secara pribadi terinspirasi dengan sejarah pembentukan Hangul tersebut, betapa cerdas dan beraninya Raja Se-jong saat itu dengan membuat gebrakan berupa aksara Hangul yang walaupun mendapat banyak tentangan, namun kenyataannya mampu bertahan sampai saat ini. Bahkan namanya harum sampai sekarang, dan idenya tentang Hangul masih dirasakan dan dipelajari hingga saat ini.

So, Mari kita berkarya. Setidaknya sekalipun kelak kita meninggal suatu saat nanti, karya kita masih bisa dinikmati, dan ide-ide kita masih bisa hidup. Setuju?

[AMELIA FITRIANI]

Poster Caleg

Gambar

WUUUSH! Angin dini hari menerbangkan debu-debu di jalan Cilibende Bogor tatkala sebuah sepeda motor melaju kencang. Debu-debu itu kemudian menempel di poster-poster caleg DPRD kota Bogor yang terpasang tepat di sebelah kampus Diploma IPB. Terhitung ada empat poster di situ.

Detik yang merambat mengisyaratkan bahwa waktu telah melampaui pukul satu dini hari. Dinginya kota Bogor menjadi saksi dari empat poster caleg yang menghujat satu sama lain. Dimulai oleh caleg partai Ayam.
Baca lebih lanjut

Goresan Tubuh Tanpa Organ: TOK*T

illustration,melrose,girl,cherry,tattoo-ffc7c4ee789fd08c147096b415f5d47f_h

TOK*T

Kami memeras-meras diri begitu buas agar cairan diri kami tumpah menjadi jutaan majalah pelepas dahaga para buaya dan hidung kuda zebra, tua atau muda. Tak usah berpikir kalau kami sedih, justru kami makin bergairah buat gondal-gandol menonjolkan diri. Rumah sakit dan jurusan bedah plastik di sekujur tubuh ibu pertiwi bersedia menyuntikkan karet silikon bagi kami. Kalau kami tak punya cukup duit, kami bisa saja jumpalitan cari tukang suntik silikon abal-abal di pinggir jalan, sukur-sukur kalau ada yang gratisan.

Ketakutan kami kepada kangker sejak lama telah kami mutilasi hidup-hidup. Dan ketahuliah, niat kami memontok-gendutkan senggayut daging ini, didukung juga oleh banyak kosmetik sejenis gerakan anti-RUU-APP. Kosmetik sejenis ini jelas bakal memuluskan nasib kami agar tetap busung diperas begitu keras oleh tangan-tangan pasar yang bebas berkeliaran mengacak-acak denyut hidup kami sampai puas.
Baca lebih lanjut

Ada Cinta dalam ‘Sekumpulan Surat Kepada Cinta’

Gambar

Judul                :  Sekumpulan Surat Kepada Cinta

Penulis            :  Eko Sugiarto

Penerbit           : MASmedia Buana Pustaka

Cetakan            : I, 2008

Tebal                : 154 halaman

CINTA merupakan tema yang umum digunakan oleh banyak penulis untuk kerangka tulisannya. Karena banyaknya yang menggunakan tema itu, muncul tantangan tersendiri bagi penulis yang ingin mengangkat tema tersebut untuk ‘mendandani’ tulisannya agar tidak membuat pembaca jenuh. Salah satu penulis yang mencoba memoles tema tersebut adalah Eko Sugiarto dalam buku antologi cerpen ‘Sekumpulan Surat Kepada Cinta’.

Buku ini terdiri dari tiga belas cerpen yang sepuluh diantaranya pernah dipublikasikan di berbagai media sebelum dibukukan, tiga diantaranya adalah “Balkon” (Borneo news, 4 Februari 2007), “Maaf Senja ini Aku Tak Mengirim Bunga” (Koran Tempo, 19 Maret 2006), “Perempuan Tanpa Nama” (Padang Ekspress, 15 Oktober 2006), dan tujuh cerpen lainnya yang pernah dipublikasikan sebelumnya.

Ugie, panggilan akrab Eko Sugiarto, mencoba seinteraktif mungkin membaurkan pembaca untuk terlibat secara emosi dalam tulisannya dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu ‘aku’ yang digambarkan sebagai seorang lelaki dan yang menjadi pembaca sebagai lawan bicaranya, yaitu tokoh ‘kamu’ yang selalu digambarkan sebagai seorang wanita. Namun dalam beberapa cerpen, Ugie memasukkan tokoh ‘dia’, seperti dalam cerpen ‘Balkon’. Sudut pandang orang pertama itu digunakan dalam semua cerpen di buku ini, kecuali cerpen ‘Kamar 305’ yang menggunakan sudut pandang orang ketiga.

Hal yang juga unik dari buku ini adalah kekonsistenan Ugie untuk tidak menceritakan secara utuh permasalahan yang terjadi dalam tiap cerpennya. Ia bisa dibilang hanya memberikan fragmen utama dari cerita tersebut, sedangkan fragmen pendukung yang sebenarnya juga penting, dihilangkan. Fragmen yang sering dihilangkan itu adalah fragmen sebab atau alasan yang melatar belakangi seorang tokoh mampu melakukan suatu hal yang mengejutkan pembaca. Seperti misalnya dalam cerpen ‘Dering Telepon Setelah Bedug Lohor’ yang menghilangkan fragmen alasan mengapa tokoh ‘kamu’ memutuskan untuk menceraikan tokoh ‘aku’.  Atau cerpen ‘Kamar 305’ yang kehilangan alasan mengapa tokoh sang istri tega membunuh suaminya yang sakit. Sehingga pembaca dibuat menerka-nerka untuk melengkapi sendiri puzzle fragmen yang hilang tersebut.

Membaca cerita-cerita dalam buku ini sama halnya seperti kita membaca surat cinta. Ada cerita yang dikomunikasikan secara tidak langsung dan ada interaksi yang dibuatnya. Hal itu bisa jadi merupakan alasan mengapa buku ini diberi judul ‘Sekumpulan Surat kepada Cinta’. Buku ini layak untuk dibaca oleh siapapun yang ingin meneguk cerita cinta tanpa terkotak oleh batasan apapun. *

[AMELIA FITRIANI]

[Idol Series] Liam Payne, 1/5 One Direction

Gambar

JIKA kalian adalah directioneners , kalian pasti akan langsung ngeh dengan nama Liam Payne. Oke sebelum kita membahas lebih lanjut tentang  si ganteng dari UK itu, saya mau menjelaskan dulu bahwa tulisan bertajuk ‘Seri Idola’ ini adalah tulisan-tulisan yang saya buat mengenai sosok-sosok yang saya idolakan secara pribadi. Tulisan ‘Seri Idola’ adalah upaya saya untuk mengenal lebih jauh mengenai sosok tersebut. Tujuannya sedehana sebenarnya, yakni agar saya pribadi tidak sekedar suka dengan sosok idola tersebut karena penampilan atau imej-nya saja, tapi juga karena saya mengenalnya sosok dia selangkah lebih dekat secara personal.

Well,  kita mulai edisi perdana ‘Seri Idola’ ini dengan membahas Liam Payne. Siapa sih liam Payne? Mungkin ada dari kalian yang masih asing dengan nama itu. Baiklah, akan saya coba perkenalkan disini, Liam Payne adalah 1/5 dari boyband yang namanya sedang menggema dan banyak disebut-sebut oleh banyak gadis di belahan dunia ini, yap! Siapa lagi kalau bukan One Direction.

For your information, One Direction yang terdiri dari Harry Styles, Zayn Malik, Louis Tomlinson, Niall Horan, dan Liam Payne ini adalah boyband jebolan ajang pencarian bakat X-Factor di Inggris musim ke-7 pada tahun 2010 lalu. Tapi sebenarnya para personel One direction pada saat itu tidak mendaftar audisi sebagai boyband lho, melainkan sebagai penyanyi solo. Namun karena persaingan yang ketat, akhirnya mereka berlima harus tersingkir dari audisi.

Tapi salah seorang vokalis dari Pussycat Dolls, Nicole Scherzinger yang pada saat itu sedang menjadi juri tamu di X-Factor menyayangkan jika suara-suara emas mereka dibiarkan pergi begitu saja. Sehingga ia mengusulan agar mereka berlima digabungkan menjadi boyband dan masuk ke dalam kategori grup. Usul tersebut disambut baik dan *tadaa* jadilah sebuah boyband bernama One Direction.

Nama One Direction diusulkan oleh Harry Styles, saya belum tahu persis filosofi dan alasan kenapa nama tersebut pada akhirnya dipakai oleh mereka. Singkat cerita, dalam ajang X-Factor tersebut, One Direction harus kalah dan tersisih di posisi ketiga setelah Rebecca Ferguson (juara dua) dan Matt Cardle (juara satu). Tapi, ternyata kesuksesan bukan hanya milik mereka yang berada di posisi pertama. Karena setelah pasca tersisihnya mereka, Simon Cowell yang juga adalah juri dan mentor mereka di X-Factor menghampiri mereka dan mengajak mereka untuk rekaman.

Jika kalian dulu sering menyaksikan American Idol pasti sudah familiar dengan nama Simon Cowell. Nama lengkapnya adalah Simon Philip Cowell, seorang eksekutif di perusahaan Sony BMG dan juga memiliki label rekaman sendiri bernama Syco Records. Ia terkenal dengan kritikannya yang pedas dan tidak jarang kontroversial ketika mengomentari peserta di pencarian bakat, baik American Idol maupun X-Factor.

Simon Cowell inilah yang kemudian mengajak One Direction rekaman. Secara resmi One Direction menandatangani kontrak rekaman dengan label milik Simon Cowell pada bulan November 2011. Disamping itu, One Direction juga menandatangani kontrak rekaman dengan Columbia Records di Amerika Utara.

Kemudian One Direction melakukan rekaman album debut mereka berjudul Up All Night di Swedia, Amerika Serikat, dan juga Inggris Singel pertama mereka yang berjudul What Makes You Beautiful dirilis pada tanggal 11 September 2011. Tanggal cantik yah (110911). Singel ini lah yang semakin meroketkan nama One Direction. Singel ini, menurut versi Sony Music Entertaiment, merupakan single yang paling banyak di-request sepanjang masa. Wah..

Tidak heran jika ketenaran One Direction dan juga lagu What Makes You Beautiful merajai Indonesia. Ketenaran itu juga yang ‘dimanfaatkan’ oleh para pendukung salah satu pasangan calon gubernur Ibu Kota kita tercinta ini ketika pemilihan Gubenur DKI Jakarta tahun 2012 lalu untuk kampanye melalui Youtube.

Nah, sekarang, dari lima makhluk berjakun yang tampan-tampan itu kenapa saya memilih Liam Payne untuk dibahas? Alasannya sederhana, karena saya memiliki ketertarikan kepada Liam Payne secara pribadi. Kenapa saya tertarik? Pertama kali saya tertarik alasannya mungkin terdengar aneh. Saya pertama kali memperhatikan One Direction adalah ketika ada tayangan dimana Gita Gutawa mewawancarai mereka di salah satu stasiun TV swasta beberapa waktu lalu. Mereka berbicara dalam bahasa Inggris dan tentu dengan logat British. Dari kelima personil One Direction yang berbicara ketika diwawancarai, hanya Liam Payne yang saya beri perhatian lebih, karena cara dia berbicara seperti patah-patah dengan logat British-nya membuat saya harus memfokuskan diri dua kali lipat supaya lebih bisa memahami apa yang ia katakan. Dibandingkan personel lainya, saya paling sulit mengerti ketika Liam berbicara. Saya mengerti apa yang dikatakan oleh keempat personil lainnya, kecuali Liam. Saya tidak keberatan jika pembaca menganggap bahasa Inggris saya buruk atau memiliki persepsi lain terhadap tayangan tersebut.

Baiklah, kembali lagi ke Liam Payne, sejak saat itu saya semakin sering mencari tahu tentang Liam Payne. Dan saat ini, saya ingin share sedikit kepada pembaca sekalian.

Nama aslinya adalah Liam James Payne. Ia lahir tanggal 29 Agustus tahun 1993. Itu berarti beberapa hari lalu ia baru genap berkepala dua. Yap! Bahkan ulang tahunnya menjadi trending topic di Twitter beberapa hari lalu. Liam lahir di Wolverhampton, West Midlands, Inggris. Liam lahir prematur, yakni tiga minggu lebih awal dari waktu yang diprediksikan. Karena itulah, ia memiliki gangguan kesehatan. Salah satu masalah kesehatan yang terpublikasi (atau ‘dipublikasikan’?entahlah) adalah sejak ia masih kanak-kanak, salah satu ginjalnya terdapat bekas luka dan tidak dapat berfungsi dengan optimal. Untuk mengatasi rasa sakitnya, ia mengikuti perawatan rutin. Baru pada tahun 2012 lalu, Liam mengumkan melalui Twitter bahwa ginjalnya saat ini sudah berfungsi kembali.

Pemilik akun Twitter dengan ID @Real_Liam_Payne ini merupakan anak bungsu dari pasangan Karen dan Geoff. Liam juga memiliki dua kakak perempuan bernama Ruth dan Nicola. Liam saat ini terdaftar sebagai mahasiswa teknologi musik di City of Wolverhampton College.

Salah satu hal yang membuat saya salut dengan Liam adalah semangatnya untuk maju. Audisi X-Factor musim ke-7 yang mempertemukannya dengan One Direction ternyata bukanlah audisi pertama yang ia ikuti. Liam pernah mengikuti audisi X-Factor dua musim sebelumya, yakni pada musim ke-5 tahun ketika ia masih berusia 14 tahun (menjelang 15 tahun tepatnya). Namun pada saat itu, Simon Cowell yang juga adalah salah satu jurinya mengatakan bahwa Liam belum cukup siap untuk berkompitisi di ajang tersebut, dan menyuruhnya untuk kembali dua tahun lagi. Dan *tadaa* dua tahun berikutnya Liam benar-benar sudah mempersiapkan diri dan datang kembali ke audisi tersebut kemudian akhirnya menjadi seperti saat ini.

Disamping perjuanganya tersebut, menurut saya, Liam juga memiliki suara yang memang merdu dan enak didengar. Secara fisik Liam juga tampan, walalupun bukan yang paling tampan menurut saya.

Ditengah ketenarannya saat ini, Liam menurut saya seorang idol yang humble terhadap fansnya. Setidaknya itu yang saya lihat dan saya rasakan ketika membaca timeline di Twitternya dan menyaksikan live show serta wawancara mereka melalui Youtube. Saya tidak keberatan jika pembaca memiliki pendapat yang berbeda dengan saya.

Saya merupakan salah satu dari banyaknya fans One Direction yang berharap bisa menyaksikan mereka tampil secara langsung dan menyapa para fansnya di Indonesia. Tapi sepertinya harapan itu masih harus saya pendam. Karena mereka masih belum ada rencana untuk show di Indonesia, setidaknya sampai tahun 2014 mendatang. Tau kenapa alasannya? Karena album mereka banyak dibajak di Indonesia, sehingga penjualan album original mereka tidak terlalu besar di Indonesia. Hm… masih berminat beli yang bajakan?

Ngomong-ngomong, saya saat ini menyukai lagu One direction yang berjudul Little Things. Memang bukan lagu baru, tapi bagi yang suka musik-musik lembut dan akustik, saya sarankan coba dengar lagu ini. Mungkin akan tertarik. Karena lagunya hanya diiringi dengan petikan gitar yang merdu. Disamping itu liirik lagunya lumayan menarik dan merayu menurut saya. Video klipnya juga terlihat sederhana dengan konsep black and white.

Secara singkat, saya berusaha mengambil hal-hal positif dari sosok idola saya, siapapun itu, termasuk Liam Payne. Hal-hal negatifnya, saya sisihkan. Dari seorang Liam Payne saya belajar tentang semangat dan usaha yang ia lakukan untuk bisa lebih dekat dengan tujuan yang ia harapkan. Liam berani mencoba sekalipun pernah gagal. Yes! Saya suka sekali perjuangannya. Ketika gagal, coba lagi. Ketika jatuh, bangkit lagi. Ketika menyerah, maka semua terhenti. Begitu kan? setidaknya hal itu bisa memotivasi saya untuk mendekati tujuan yang saya harapkan, seterjal apapun jalan yang harus saya lalui.

Coba bayangkan ketika Liam mengalami kegagalan pada musim ke-5 X-Factor, ia kemudian menyerah dan berhenti menyanyi begitu saja. Akankah saat ini One Direction hadir tanpa Liam? Hm…*

[AMELIA FITRIANI]